Fakultas Teknik UNP
Padang
|
Nama : Taufiq
Muhammad Nur
|
Jurusan: Teknik
Elektronika
|
NIM : 1201912
|
Prodi : Pendidikan Teknik elektronika
|
Grup : 2E2
|
A. Tujuan
Setelah
praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu:1. Merakit rangkaian Tone Control (Pengatur Nada) dan Power Aplifier.
2. Mengetahui fungsi rangkaian Tone Control pada sistem audio
3. Mengetahui karakteristik kerja rangkaian Tone Control pada sistem audio
4. Melihat respon frekuensi dan penguatan yang dapat dilakukan oleh rangkaian Tone
Control.
B. Alat dan Bahan
1. Osiloskop Dual Beam
2. Multimeter
3. AFG
4. Kit Power Amplifier + Tone Control
5. Loudspeaker
6. Kabel listrik
7. Audio Player
1. Osiloskop Dual Beam
2. Multimeter
3. AFG
4. Kit Power Amplifier + Tone Control
5. Loudspeaker
6. Kabel listrik
7. Audio Player
C. TEORI PENDUKUNG
Rangkaian penguat audio yang baik
yaitu rangkaian yang mampu memperkuatkan sinyal pada range frekuensi audio
yaitu frekuensi 20 Hz sampai 20 KHz dan pada saat melakukan penguatan tanpa
terjadinya cacat dengan nois yang sekecil mungkin. Range frekuensi ini juga
tergantung dari kemampuan dari loudspeaker. Jika loudspeaker bekerja pada
frekuensi Full Range (20 Hz – 20 Khz) ini sangat baik sekali, karena akan di
dapat nada yang dinamis pada frekuensi full range. Tapi jika hanya frekuensi
tertentu saja yang mampu di reproduksi oleh loudspeaker, maka penggunaan tone
control memungkinkan untuk membatasi frekuensi tertentu.
Tone control merupakan rangkaian pengatur nada yang terdiri dari rangkaian filter, yaitu Low Pass Filter (LPF) dan Figh Pass Filter (HPF) maupun Band Pass Filter. Sebelum sinyal dikuatkan oleh rangkaian Power Aplifier, rangkaian tone control bekerja dengan mengatur nada yang akan dilewatkan pada rangkaian power amplifier, sehingga akan di dapatkan nada sesuai dengan respon frekuensi pada loudspeaker dan akan di dapatkan hasil (suara) pada loudspeaker yang sesuai dengan keinginan pengguna.
Tone control merupakan rangkaian pengatur nada yang terdiri dari rangkaian filter, yaitu Low Pass Filter (LPF) dan Figh Pass Filter (HPF) maupun Band Pass Filter. Sebelum sinyal dikuatkan oleh rangkaian Power Aplifier, rangkaian tone control bekerja dengan mengatur nada yang akan dilewatkan pada rangkaian power amplifier, sehingga akan di dapatkan nada sesuai dengan respon frekuensi pada loudspeaker dan akan di dapatkan hasil (suara) pada loudspeaker yang sesuai dengan keinginan pengguna.
=GAMBAR=
D. Langkah Kerja
1. Lengkapilah peralatan dan bahan praktikum yang akan digunakan, periksa
terlebih dahulu peralatan dan pastikan komponen dalam keadaan baik dan bekerja.
2. Rakitlah rangkaian Power Amplifier dan Tone Control, sesuaikan dengan skema rangkaian seperti pada gambar di bawah, kemudian berikan tegangan
dan hidupkan rangkaian sehingga output power amplifier menghasilkan bunyi
saat input disentuh dengan tangan.
1. Lengkapilah peralatan dan bahan praktikum yang akan digunakan, periksa
terlebih dahulu peralatan dan pastikan komponen dalam keadaan baik dan bekerja.
2. Rakitlah rangkaian Power Amplifier dan Tone Control, sesuaikan dengan skema rangkaian seperti pada gambar di bawah, kemudian berikan tegangan
dan hidupkan rangkaian sehingga output power amplifier menghasilkan bunyi
saat input disentuh dengan tangan.
=GAMBAR=
3. Atur pengaturan nada volume,
bass, dan trable pada posisi tengah
4. Hubungkan AFG pada bagian input rangkaian amplifier serta hubungkan ke
chanel 1 osiloskop dan output pada chanel 2 osiloskop.
5. Atur input AFG pada posisi 1 KHz dengan amplitude sebesar 50mVp-p, berapa
tengangan output yang dihasilkan Vo = 1,8 x 500mV = 900 mV= 0.9Vp-p. Dan
tentukan juga beda fase=… .
6. Atur volume hingga menghasilkan sinyal output yang dapat terbaca dan tidak
cacat 3.4 Vp-p, berapa besar penguatan dari rangkaian yang anda gunakan Av=
20 log Vo/Vi = 20 log 3400mV/50mV = 20 log 68 = 36 db.
4. Hubungkan AFG pada bagian input rangkaian amplifier serta hubungkan ke
chanel 1 osiloskop dan output pada chanel 2 osiloskop.
5. Atur input AFG pada posisi 1 KHz dengan amplitude sebesar 50mVp-p, berapa
tengangan output yang dihasilkan Vo = 1,8 x 500mV = 900 mV= 0.9Vp-p. Dan
tentukan juga beda fase=… .
6. Atur volume hingga menghasilkan sinyal output yang dapat terbaca dan tidak
cacat 3.4 Vp-p, berapa besar penguatan dari rangkaian yang anda gunakan Av=
20 log Vo/Vi = 20 log 3400mV/50mV = 20 log 68 = 36 db.
Bentuk
signal:
=GAMBAR=
7. Ulangi langkah 6, aturlah posisi
tone control dan ukur tegangan output (Volume
dan Amplitudo AFG tidak dirubah). Isilah tabel pengamatan berikut ini:
dan Amplitudo AFG tidak dirubah). Isilah tabel pengamatan berikut ini:
a) Kondisi
potensio tone control ,bass = minimum, high/terible = minimum
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
250 mV
|
|
250 Hz
|
850 mV
|
|
500 Hz
|
1.5 V
|
|
750 Hz
|
1.8 V
|
|
1000 Hz
|
2 V
|
|
1500 Hz
|
1.9 V
|
|
2000 Hz
|
1.8 V
|
|
5000 Hz
|
1 V
|
|
10000 Hz
|
450 mV
|
|
15000 Hz
|
244 mV
|
|
20000 Hz
|
160 mV
|
b) Kondisi
potensio tone control ,bass = minimum, high/terible = tengah
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar Tegangan
pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
240 mV
|
|
250 Hz
|
820 mV
|
|
500 Hz
|
1.7 V
|
|
750 Hz
|
2.4 V
|
|
1000 Hz
|
3 V
|
|
1500 Hz
|
3.5 V
|
|
2000 Hz
|
3.8 V
|
|
5000 Hz
|
4 V
|
|
10000 Hz
|
3.4 V
|
|
15000 Hz
|
2.8 V
|
|
20000 Hz
|
2.3 V
|
c) Kondisi
potensio tone control ,bass = tengah, high/terible = minimum
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
1.9 V
|
|
250 Hz
|
2.2 V
|
|
500 Hz
|
2.4 V
|
|
750 Hz
|
2.5 V
|
|
1000 Hz
|
2.5 V
|
|
1500 Hz
|
2.3 V
|
|
2000 Hz
|
2 V
|
|
5000 Hz
|
1 V
|
|
10000 Hz
|
440 mV
|
|
15000 Hz
|
260 mV
|
|
20000 Hz
|
160 mV
|
d) Kondisi
potensio tone control ,bass = tengah, high/terible = tengah
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
1.8 V
|
|
250 Hz
|
2 V
|
|
500 Hz
|
2.3 V
|
|
750 Hz
|
2.8 V
|
|
1000 Hz
|
3.2 V
|
|
1500 Hz
|
3.5 V
|
|
2000 Hz
|
3.6 V
|
|
5000 Hz
|
3.6 V
|
|
10000 Hz
|
3 V
|
|
15000 Hz
|
2.6 V
|
|
20000 Hz
|
2.1 V
|
e) Kondisi
potensio tone control ,bass = minimum, high/terible = maksimum
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
280 mV
|
|
250 Hz
|
920 Mv
|
|
500 Hz
|
2 V
|
|
750 Hz
|
3.2 V
|
|
1000 Hz
|
4.3 V
|
|
1500 Hz
|
6.2 V
|
|
2000 Hz
|
8.2 V
|
|
5000 Hz
|
11.2 V
|
|
10000 Hz
|
11.6 V
|
|
15000 Hz
|
11.4 V
|
|
20000 Hz
|
10 V
|
f) Kondisi
potensio tone control ,bass = maksimum, high/terible = minimum
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
5.4 V
|
|
250 Hz
|
7 V
|
|
500 Hz
|
4.7 V
|
|
750 Hz
|
4.4 V
|
|
1000 Hz
|
3.7 V
|
|
1500 Hz
|
2.8 V
|
|
2000 Hz
|
2.4 V
|
|
5000 Hz
|
1 V
|
|
10000 Hz
|
444 mV
|
|
15000 Hz
|
256 mV
|
|
20000 Hz
|
600 Mv
|
g) Kondisi
potensio tone control ,bass = tengah, high/terible = maksimum
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
2 V
|
|
250 Hz
|
2 V
|
|
500 Hz
|
2.2 V
|
|
750 Hz
|
3 V
|
|
1000 Hz
|
4 V
|
|
1500 Hz
|
5.8 V
|
|
2000 Hz
|
7.4 V
|
|
5000 Hz
|
11.4 V
|
Bentuk sinyal Cacat
|
10000 Hz
|
11.6 V
|
Bentuk sinyal Cacat
|
15000 Hz
|
11.2 V
|
Bentuk sinyal Cacat
|
20000 Hz
|
10 V
|
h) Kondisi
potensio tone control ,bass = maksimum, high/terible = tengah
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
960 mV
|
|
250 Hz
|
2.5 V
|
|
500 Hz
|
2.1 V
|
|
750 Hz
|
2.2 V
|
|
1000 Hz
|
3.6 V
|
|
1500 Hz
|
4 V
|
|
2000 Hz
|
4 V
|
|
5000 Hz
|
4 V
|
|
10000 Hz
|
3.5 V
|
|
15000 Hz
|
2.8 V
|
|
20000 Hz
|
2.4 V
|
i)
Kondisi potensio tone control ,bass = maksimum,
high/terible = max
Frekuensi
Input
(Vo=100mVp-p) |
Besar
Tegangan pada Output
|
Keterangan
|
100 Hz
|
5 V
|
|
250 Hz
|
6.5 V
|
|
500 Hz
|
5 V
|
|
750 Hz
|
3.5 V
|
|
1000 Hz
|
3 V
|
|
1500 Hz
|
4.3 V
|
|
2000 Hz
|
5.9 V
|
|
5000 Hz
|
11.2 V
|
Bentuk sinyal cacat
|
10000 Hz
|
11.2 V
|
Bentuk sinyal cacat
|
15000 Hz
|
11.1 V
|
Bentuk sinyal cacat
|
20000 Hz
|
10 V
|
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dan analisa yang telah dilakukan mengenai power
amplifier (penguat daya suara), maka dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa:
1. Rangkaian tone kontrol ini adalah rangkaian gabungan atau kombinasi dari
rangkaian filter-filter yang lainnya seperti LPF(low pass filter),HPF (High pass
filter), BPS (band pass filter )
2. Pada pratikum ini ,dapat dilihat bahwa sinyal keluarannya tidak selalu baik atau
cacat, jadi dapat disimpulkan bahwa rangkaian ini kurang baik,karena seperti
yang kita ketahui bahwa,rangkaian penguat audio yang baik itu,harus mampu
mengurangi cacat atau nois sekecil mungkin.
3. Cara kerja dari rangkaian ini adalah.Pada saat frekuensi nada bass meningkat,
maka akan memberikan efek pada resistor samapai kapasitor sehingga tidak lagi
memberikan efek atau pengaruhnya pada rangkaian. Sehingga frekuensi di atas
tidak di pengaruhi oleh posisi potensiometer pada bass Untuk nada treble, pada
akhir frekuensi tinggi audio kapasitor bertindak seakan short sirkuit. maka
penguatan akan diatur oleh potensiometer treble.
Berdasarkan hasil praktikum dan analisa yang telah dilakukan mengenai power
amplifier (penguat daya suara), maka dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa:
1. Rangkaian tone kontrol ini adalah rangkaian gabungan atau kombinasi dari
rangkaian filter-filter yang lainnya seperti LPF(low pass filter),HPF (High pass
filter), BPS (band pass filter )
2. Pada pratikum ini ,dapat dilihat bahwa sinyal keluarannya tidak selalu baik atau
cacat, jadi dapat disimpulkan bahwa rangkaian ini kurang baik,karena seperti
yang kita ketahui bahwa,rangkaian penguat audio yang baik itu,harus mampu
mengurangi cacat atau nois sekecil mungkin.
3. Cara kerja dari rangkaian ini adalah.Pada saat frekuensi nada bass meningkat,
maka akan memberikan efek pada resistor samapai kapasitor sehingga tidak lagi
memberikan efek atau pengaruhnya pada rangkaian. Sehingga frekuensi di atas
tidak di pengaruhi oleh posisi potensiometer pada bass Untuk nada treble, pada
akhir frekuensi tinggi audio kapasitor bertindak seakan short sirkuit. maka
penguatan akan diatur oleh potensiometer treble.